RSS

The development of instructional system / pengembangan sistem instruksional



PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL

A.    Latar Belakang Masalah
Pengembangan sistem pembelajaran (instruksional) merupakan salah satu bentuk pembaharuan sistem instruksional yang banyak dilakukan dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan, dengan maksud agar sistem tersebut dapat lebih serasi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, serasi pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utama meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Namun demikian, pendekatan yang sistematis dalam kegiatan instruksional ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dan dengan sebutan yang berbeda-beda pula. Sebutan itu di antaranya adalah: pengembangan instruksional, desain instruksional, pengembangan sistem instruksional, pengembangan program instruksional, pengembangan produk instruksional, pengembangan organisasi, dan pengembangan kemampuan mengajar. Tetapi istilah populer yang lazim digunakan adalah “pengembangan instruksional (pembelajaran), yang merupakan padanan dari istilah “instructional development”. Istilah yang disebutkan terakhir ini adalah merupakan istilah resmi yang dibakukan oleh organisasi profesi AECT (Association for Educational Communication and Technology) di Amerika Serikat.
Dalam operasionalnya pengembangan sistem intruksional ini dapat dilaksanakan untuk jangka pendek maupun jangka panjang; dapat dilaksanakan untuk satu topik sajian, satu periode latihan, satu semester, satu bidang studi, atau bahkan satu sistem yang lebih besar lagi.
Atas dasar itulah Gustafson (dalam Sadiman, 1986:13) membedakan adanya tingkatan atau level pengembangan sistem instruksional, yakni: (a) tingkatan kelas, (b) tingkatan sistem, (c) tingkatan produk, dan (d) tingkatan organisasi. Setiap tingkatan tersebut memiliki fungsi dan model-model yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.  
Dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih terperinci mengenai pengembangan sistem instruksional.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
a.       Apakah pengertian pengembangan sistem Instruksional?
b.      Apakah  prinsip dasar pengembangan Sistem Instruksional?
c.       Bagaimanakah tingkatan pengembangan sistem Instruksional?
d.      Bagaimanakah model-model pengembangan sistem instruksional?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:
a.       untuk mengetahui bagaimana konsepsi dasar pengembangan sistem instruksional;
b.      untuk mengetahui prinsip dasar pengembangan sistem instruksional;
c.       untuk mengetahui tingkatan pengembangan sistem instruksional;
d.      untuk mengetahui model-model pengembangan sistem instruksional

D.    Manfaat Pembahasan
Dari pembahasan makalah ini maka diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam memahami pembahasan ini dan untuk menambah wawasan pembaca.









PEMBAHASAN

A.            PENGEERTIAN PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Ada banyak pengertian pengembangan sistem intruksional yang dapat kita jumpai dalam berbagai kepustakaan, yang rumusannya saling berbeda. Untuk memperoleh pengertian yang komprehensif, berikut ini diberikan beberapa konsepsi dasar yakni:
            Sistem instruksional adalah semua materi (konsep) pembelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan yang sebenarnya (Baker, 1971:16). Hal ini menunjukkan bahwa materi pembelajaran yang akan guru sampaikan kepada warga belajar harus materi yang telah teruji validitas dan reliabelnya. Materi pembelajaran yang valid dan reliabel akan sangat mendukung pencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Di samping itu, walaupun materi pembelajaran sudah valid dan reliabel, tetapi kalau cara penyampainnya kurang baik, besar kemungkinan tujuan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, diperlukan cara penyampaian atau cara pembelajarannya, yaitu metode yang telah teruji pula, yang memungkinkan dapat digunakan dengan baik pada pelaksanaan pembelajaran.
            Adapun yang dimaksud dengan disain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam kegiatan ini termasuk pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan evaluasi hasil belajar (Briggs, 1979:2). Hal ini menggambarkan adanya pengkajian kebutuahan diperlukan warga belajar. Apabila telah ditemukan kebutuhan siswa lalu dirumuskan dalam bentuk tujuan pembelajaran. Untuk pencapai tujuan pembelajaran diperlukan teknik-teknik pembelajaran untuk mengkaji, menelaah, dan bahkan menerapk
an materi pembelajaran agar mencapi tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kegiatan ini
perencanaan pembelajaran (disain instruksional) mencakup penyusunan bahan ajar (paket pembelajaran), ada langkah-langkah pengajaran yang disebut kegiatan mengajar, bahkan ada uji coba untuk mencari perbaikan-perbaikan (revisi), dan diakhiri dengan ke-giatan penilaian (evaluasi).
            Pengembangan pembelajaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dalam desain, produksi, evaluasi, dan pemanfaatan sistem pembelajaran yang lengkap termasuk komponen-komponennya dan contoh manajemen penggunaannya. (AECT ,1979: 20).
Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku. AETT (dalam Miarso, 1988: 8).
*     Dari beberapa konsepsi dasar tentang pengembangan sistem instruksional, maka dapat ditarik kesimpulan. Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sistematis dalam menilai, mendeskripsikan, mengidentifikasi, mengembangkan serta menggunakan komponen-komponen sistem pembelajaran (peserta didik, tujuan, materi, media, metode, dan evaluasi) demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.

B.PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: berfokus pada siswa, menggunakan pendekatan sistem, dan berupaya memaksimalkan penggunaan berbagai sumber belajar.
Ø  Berfokus pada siswa
Prinsip ini memandang bahwa, dalam rangka penerapan pengembangan sistem instruksional, siswa adalah sentral kegiatan pembelajaran. Prinsip ini juga memandang bahwa dalam setiap proses pembelajaran, siswa hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa guru adalah pihak yang pasif. Keduanya harus bertindak aktif.
Ø  Pendekatan sistem
Prinsip ini memandang bahwa masalah belajar adalah suatu sistem. Maksudnya, penanganan terhadap satu komponen pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pengembangan sistem instruksional harus pula mempertimbangkan integrasi komponen yang lain sehingga diperoleh efek yang sinergistik untuk memecahkan masalah-masalah belajar.
Ø  Pemanfaatan sumber belajar secara maksimal
Prinsip ini memandang bahwa semua komponen sumber belajar baik pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar harus dimanfaatkan secara luas dan maksimal dalam rangka memecahkan masalah-masalah belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. 
C. TINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM  INSTRUKSIONAL
Beberapa tingkatan pengembangan sistem instruksianal dapat kita lihat sebagai berikut:
*      Tingkatan Sistem
Pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem ini dimaksudkan untuk menghasilkan sistem pembelajaran yang besar. Kegiatan biasanya berangkat dari nol, yakni tidak adanya sistem tersebut sampai dengan dihasilkannya suatu sistem. Kegiatan ini didahului dengan kegiatan awal yang mendalam dan menyeluruh, yang meliputi: analisis kebutuhan, analisis topik, serta analisi tugas. Kegiatan ini tidak hanya berbicara masalah pembelajaran saja tetapi juga masalah pendidikan secara keseluruhan. Masalah yang mendorong dilakukannya kegiatan ini bukan hanya sekedar masalah pembelajaran, melainkan keseluruhan sistem pendidikan dan latihan yang dihadapi oleh lembaga yang bersangkutan. Sedangkan sistem pendidikan/latihan yang menyeluruh itu meliputi masukan mentah (siswa/peserta), jumlah dan kualifikasinya; masukan instrumental (kurikulum/program, fasilitas, dana, dan lainnya); proses/pelaksanaan kegiatan pendidikan/latihan itu sendiri; serta hasil itu yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Oleh karena itu kegiatan ini melibatkan banyak orang terdiri dari ahli teknologi pembelajaran, ahli bidang studi, guru, dan sebagainya.
*      Tingkatan Kelas
Pengembangan sistem instruksianal tingkat kelas ini pada hakikatnya adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dari pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem untuk dilaksanakan dalam tingkatan kelas. Dengan kata lain, pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini adalah identik dengan penyusunan persiapan mengajar oleh guru untuk satu atau lebih topik tertentu. Kegiatan awalnya sangat sederhana, biasanya berupa penilaian tingkat kemampuan awal siswa. Pada pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini diasumsikan bahwa kurikulum/program pembelajaran, fasilitas, siswa/peserta latihan, pengajar, dan sebagainya.
*      Tingkatan Produk
Tujuan pengembangan sistem instruksianal tingkatan produk ini adalah untuk memproduksi satu atau lebih produk pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, kegiatan ini didahului dengan mengkaji masalah-masalah pembelajaran yang ada untuk mengetahui masukan yang diperlukan. Hasil kegiatan ini berupa paket pembelajaran seperti modul, media audiovisual, dan lain-lain bahan belajar yang bentuknya disesuaikan dengan karakteristiknya. 
*      Tingkatan Organisasi
                  Pengembangan sistem instruksianal tingkat organisasi ini dimaksudkan tidak hanya untuk meningkatkan pembelajaran, tetapi juga memodifikasi atau mengubah organisasi dan personil suatu lembaga atau organisasi ke situasi yang baru agar efektivitas dan efisiensi organisasi tersebut meningkat.
Kegiatan ini diawali dengan bertolak dari analisis pekerjaan, atau analisis isi ajaran. Analisis ini akan menghasilkan emat kemungkinan, yakni: (1) perlunya diklat khusus diluar pekerjaan karena ada sejumlah kemampuan yang belum dikuasai, (2) perlunya latihan dalam jabatan karena ada sejumlah kemampuan khusus yang harus dikuasai, (3) perlunya ada pengawasan dan pembinaan yang ketat dalam pelaksanaan pekerjaan karena dituntut adanya ketepatan perbuatan dalam suatu tugas.






D.  MODEL-MODEL PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
a)    Model KEMP, terdiri dari 8 langkah :
1)      Menentukan tujuan instruksional umum, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok bahasan.
2)      Membuat analisis tentang karakteristik siswa.
3)      Menentukan tujuan instruksional secara spesifik, operasional, dan terukur.
4)      Menentukan materi atau bahan pelajaran sesuai dengan tujuan instruksional khusus.
5)      Menetapkan penjajagan awal.
6)      Menentukan strategi belajar mengajar yang sesuai kriteria umum untuk pemilihan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan instruksional khusus adalah efesien, keefektifan, ekonomis, kepraktisan.
7)      Mengkoordinasi sarana penunjang yang diperlukan meliputi biaya, fasilitas, peralatan, waktu dan tenaga.
8)      Mengadakan evaluasi.
b)      Model H. Banathy,terdiri dari 6 langkah :
1)      Merumuskan tujuan (formulate objctives).
2)      Mengembangkan tes (develop test).
3)      Menganalisis kegiatan belajar (analyze learning task).
4)      Mendesain sistem instruksional (design system).
5)      Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil.
6)      Mengadakan perbaikan (change to improve).
c)      Model PPSI, terdiri dari 5 langkah :
1)      Merumuskan tujuan instruksional khusus.
2)      Menyusun alat evaluasi.
3)      Menetukan kegiatan belajar dan materi pelajaran.
4)      Merencanakan program kegiatan.
5)      Melaksanakan program. Langkah yang perlu dilakukan dalam fase ini adalah : amengadakan tes awal, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan evaluasi tes akhir.
d)     Model Dick and Carrey, terdiri dari 10 langkah :
1)      Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran.
2)      Mengadakan analisis pembelajaran.
3)      Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik mahasiswa.
4)      Merumuskan tujuan performansi.
5)      Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan.
6)      Mengembangkan strategi pembelajaran.
7)      Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran.
8)      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.
9)      Merevisi bahan pembelajaran.
10)  Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.
e).Model Gerlach and Ely, terdiri dari 10 langkah :
1)      Spesifikasi isi pokok bahasan.
2)      Spesifikasi tujuan pembelajaran.
3)      Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa.
4)      Penentuan cara pendekatan, metode dan teknik mengajar.
5)      Pengelompokan siswa.
6)      Penyediaan waktu.
7)      Pengaturan ruangan.
8)      Pemilihan media atau sumber belajar.
9)      Evaluasi.
10)  Analisis umpan balik.



Kesimpulan
Setelah  diuraikan tentang model-model Pengembangan Sistem Instruksional , secara garis besar dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1.      Model pengembangan sistem instruksional adalah se­perangkat prosedur yang berurutan untuk melaksanakan pengembangan sistem instruksional.
2.     Prinsip pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: berfokus pada siswa, menggunakan pendekatan sistem, dan berupaya memaksimalkan penggunaan berbagai sumber belajar.
4.      Model-model pengembangan instruksional, antara lain pengembangan instruksional model Banathy, PPSI, model Kemp, model Briggs, model Gerlach & Ely, model IDI (Instruksional Development Institute).

 Saran
Untuk para pengembang sistem instruksional hendaknya dapat melakukan kegiatan pokoknya dengan baik, seperti :
a.       Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur.
b.      Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
c.       Menentukan metode dan memonitori responsi siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
d.      Mengadakan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.







DAFTAR PUSTAKA
AECT. (1979). The defenitions of educational technology. Washington.
            Banathy. (1968). Instruction system. Belmond: Fearon.
            Gagne. (1988). Prinsiples of instruction design, third edition. New York: Rinehart and Winston.
            Harjanto. (2006). Perencanaan pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Miarso. (1988). Survey model pengembangan instruksional. Jakarta: PAU-UT.
Sadiman. (1986). Media pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud..
M. Atwi Suparman, Desain Instruksional (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004),


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Youtube akan ditutup

Jakarta - Sebuah postingan video resmi dari YouTube mengungkapkan bahwa mulai tanggal 1 April 2013, situs berbagi video ini akan ditutup. Eittt, tunggu dulu, Ini cuma bagian dari April Mop!

Ya, seperti diketahui setiap tanggal 1 April -- bagi sebagian orang khususnya di negara barat -- dikenal sebagai hari dimana seseorang 'dapat' berbohong tanpa harus dianggap bersalah. Tentu saja ini cuma ajang becandaan dan tak perlu dianggap terlalu serius.

Dan perayaan yang disebut April Mop atau April Fools ini juga dilakukan oleh YouTube lewat video yang berjudul 'YouTube's Ready to Select a Winner'. Di dalam video tersebut, karyawan YouTube menjelaskan bahwa mulai tengah malam ini situs mereka akan offline.

Mereka kemudian akan mulai menggelar kompetisi video terbaik, dengan pemenang diumumkan ketika YouTube kembali online di tahun 2023.

"Malam ini di tengah malam, YouTube.com tidak akan menerima video lagi. Setelah delapan tahun yang luar biasa, itu akhirnya waktu untuk meninjau segala sesuatu yang telah diupload ke situs kami dan memulai proses pemilihan pemenang," kata Tim Liston, sang Direktur Kompetisi program akal-akalan tersebut, seperti dilansir Huffington Post, Senin (1/4/2013).

Untuk meyakinkan bahwa program ini dibuat serius. Tampil juga CEO sekaligus duo pendiri Youtube, Steve Chen dan Chad Hurley. Bahkan ada juga testimoni dari juri yang memilih video terbaik tersebut.

Semakin terlihat drama, video ini menunjukkan intrik di antara juri dalam memilih video yang terbaik selama ini.

Semua dibuat serius untuk menyambut April Mop ini
( Sumber:inet.detik.com ) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengembangan sistem instruksional



PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL

     A.  Latar Belakang Masalah
 Pengembangan sistem pembelajaran (instruksional) merupakan salah satu bentuk pembaharuan sistem instruksional yang banyak dilakukan dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan, dengan maksud agar sistem tersebut dapat lebih serasi dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, serasi pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan utama meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses pembelajaran.
Namun demikian, pendekatan yang sistematis dalam kegiatan instruksional ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, dan dengan sebutan yang berbeda-beda pula. Sebutan itu di antaranya adalah: pengembangan instruksional, desain instruksional, pengembangan sistem instruksional, pengembangan program instruksional, pengembangan produk instruksional, pengembangan organisasi, dan pengembangan kemampuan mengajar. Tetapi istilah populer yang lazim digunakan adalah “pengembangan instruksional (pembelajaran), yang merupakan padanan dari istilah “instructional development”. Istilah yang disebutkan terakhir ini adalah merupakan istilah resmi yang dibakukan oleh organisasi profesi AECT (Association for Educational Communication and Technology) di Amerika Serikat.
Dalam operasionalnya pengembangan sistem intruksional ini dapat dilaksanakan untuk jangka pendek maupun jangka panjang; dapat dilaksanakan untuk satu topik sajian, satu periode latihan, satu semester, satu bidang studi, atau bahkan satu sistem yang lebih besar lagi.
Atas dasar itulah Gustafson (dalam Sadiman, 1986:13) membedakan adanya tingkatan atau level pengembangan sistem instruksional, yakni: (a) tingkatan kelas, (b) tingkatan sistem, (c) tingkatan produk, dan (d) tingkatan organisasi. Setiap tingkatan tersebut memiliki fungsi dan model-model yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.  
Di Indonesia, pengembangan sistem pembelajaran merupakan hal yang relatif baru. Pertama kali digunakan pada tahun 1972 oleh Badan Pengembangan Pendidikan (sekarang: Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan) dengan nama populernya PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). Bahkan perguruan tinggi kita baru mengenal dan menggunakan model pengembangan sistem instruksional ini pada tahun 1976. Sejak saat itu pengembangan dan penggunaan model-model pengembangan sistem intruksional sangat berkembang pesat sampai saat ini. 

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
a.       Bagaimanakah konsepsi dasar pengembangan sistem Instruksional?
b.      Apakah  prinsip dasar pengembangan Sistem Instruksional?
c.       Bagaimanakah tingkatan pengembangan sistem Instruksional?
d.      Bagaimanakah model-model pengembangan sistem instruksional?

C.    Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah:
a.       untuk mengetahui bagaimana konsepsi dasar pengembangan sistem instruksional;
b.      untuk mengetahui prinsip dasar pengembangan sistem instruksional;
c.       untuk mengetahui tingkatan pengembangan sistem instruksional;
d.      untuk mengetahui model-model pengembangan sistem instruksional

D.    Manfaat Pembahasan
Dari pembahasan makalah ini maka diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam memahami pembahasan ini dan untuk menambah wawasan pembaca.



PEMBAHASAN

A.            KONSEPSI DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Ada banyak sekali konsepsi dasar tentang pengembangan sistem intruksional yang dapat kita jumpai dalam berbagai kepustakaan, yang rumusannya saling berbeda. Untuk memperoleh pengertian yang komprehensif, berikut ini diberikan beberapa konsepsi dasar yakni:
*      AECT (1979: 20) mendefenisikan sebagai berikut:
Pengembangan pembelajaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dalam desain, produksi, evaluasi, dan pemanfaatan sistem pembelajaran yang lengkap termasuk komponen-komponennya dan contoh manajemen penggunaannya.
*      AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku.
*      Ely (1978: 4) mendefenisikan bahwa:
Pengembangan sistem instruksional adalah suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pengajaran, agar mendapatkan pemecahan yang teruji validitas dan praktis bisa dilaksanakan.

            Dari beberapa konsepsi dasar tentang pengembangan sistem instruksional, maka dapat ditarik kesimpulan. Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu pola atau rencana yang sistematis dalam menilai, mendeskripsikan, mengidentifikasi, mengembangkan serta menggunakan komponen-komponen sistem pembelajaran (peserta didik, tujuan, materi, media, metode, dan evaluasi) demi tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.




B.PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Sebagai bagian dari teknologi pendidikan, pengembangan sistem instruksional tentunya mempunyai prinsip dasar yang sama dengan teknologi pendidikan, yakni: berfokus pada siswa, menggunakan pendekatan sistem, dan berupaya memaksimalkan penggunaan berbagai sumber belajar.
Ø  Berfokus pada siswa
Prinsip ini memandang bahwa, dalam rangka penerapan pengembangan sistem instruksional, siswa adalah sentral kegiatan pembelajaran. Prinsip ini juga memandang bahwa dalam setiap proses pembelajaran, siswa hendaknya bertindak sebagai pihak yang aktif dan dibuat aktif. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa guru adalah pihak yang pasif. Keduanya harus bertindak aktif.
Ø  Pendekatan sistem
Prinsip ini memandang bahwa masalah belajar adalah suatu sistem. Maksudnya, penanganan terhadap satu komponen pembelajaran dalam rangka pelaksanaan pengembangan sistem instruksional harus pula mempertimbangkan integrasi komponen yang lain sehingga diperoleh efek yang sinergistik untuk memecahkan masalah-masalah belajar.
Ø  Pemanfaatan sumber belajar secara maksimal
Prinsip ini memandang bahwa semua komponen sumber belajar baik pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar harus dimanfaatkan secara luas dan maksimal dalam rangka memecahkan masalah-masalah belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. 
C. TINGKATAN PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL
Beberapa tingkatan pengembangan sistem instruksianal dapat kita lihat sebagai berikut:
*      Tingkatan Sistem
Pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem ini dimaksudkan untuk menghasilkan sistem pembelajaran yang besar. Kegiatan biasanya berangkat dari nol, yakni tidak adanya sistem tersebut sampai dengan dihasilkannya suatu sistem. Kegiatan ini didahului dengan kegiatan awal yang mendalam dan menyeluruh, yang meliputi: analisis kebutuhan, analisis topik, serta analisi tugas. Kegiatan ini tidak hanya berbicara masalah pembelajaran saja tetapi juga masalah pendidikan secara keseluruhan. Masalah yang mendorong dilakukannya kegiatan ini bukan hanya sekedar masalah pembelajaran, melainkan keseluruhan sistem pendidikan dan latihan yang dihadapi oleh lembaga yang bersangkutan. Sedangkan sistem pendidikan/latihan yang menyeluruh itu meliputi masukan mentah (siswa/peserta), jumlah dan kualifikasinya; masukan instrumental (kurikulum/program, fasilitas, dana, dan lainnya); proses/pelaksanaan kegiatan pendidikan/latihan itu sendiri; serta hasil itu yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan. Oleh karena itu kegiatan ini melibatkan banyak orang terdiri dari ahli teknologi pembelajaran, ahli bidang studi, guru, dan sebagainya.
*      Tingkatan Kelas
Pengembangan sistem instruksianal tingkat kelas ini pada hakikatnya adalah merupakan penjabaran lebih lanjut dari pengembangan sistem instruksianal tingkatan sistem untuk dilaksanakan dalam tingkatan kelas. Dengan kata lain, pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini adalah identik dengan penyusunan persiapan mengajar oleh guru untuk satu atau lebih topik tertentu. Kegiatan awalnya sangat sederhana, biasanya berupa penilaian tingkat kemampuan awal siswa. Pada pengembangan sistem instruksianal tingkatan kelas ini diasumsikan bahwa kurikulum/program pembelajaran, fasilitas, siswa/peserta latihan, pengajar, dan sebagainya.
*      Tingkatan Produk
Tujuan pengembangan sistem instruksianal tingkatan produk ini adalah untuk memproduksi satu atau lebih produk pembelajaran tertentu. Oleh karena itu, kegiatan ini didahului dengan mengkaji masalah-masalah pembelajaran yang ada untuk mengetahui masukan yang diperlukan. Hasil kegiatan ini berupa paket pembelajaran seperti modul, media audiovisual, dan lain-lain bahan belajar yang bentuknya disesuaikan dengan karakteristiknya. 


*      Tingkatan Organisasi
                  Pengembangan sistem instruksianal tingkat organisasi ini dimaksudkan tidak hanya untuk meningkatkan pembelajaran, tetapi juga memodifikasi atau mengubah organisasi dan personil suatu lembaga atau organisasi ke situasi yang baru agar efektivitas dan efisiensi organisasi tersebut meningkat.
Kegiatan ini diawali dengan bertolak dari analisis pekerjaan, atau analisis isi ajaran. Analisis ini akan menghasilkan emat kemungkinan, yakni: (1) perlunya diklat khusus diluar pekerjaan karena ada sejumlah kemampuan yang belum dikuasai, (2) perlunya latihan dalam jabatan karena ada sejumlah kemampuan khusus yang harus dikuasai, (3) perlunya ada pengawasan dan pembinaan yang ketat dalam pelaksanaan pekerjaan karena dituntut adanya ketepatan perbuatan dalam suatu tugas.

A.    Simpulan
AETT (dalam Miarso, 1988: 8) mendefenisikan bahwa: Pengembangan instruksional adalah pengembangan sumber-sumber belajar secara sistematik agar dapat terjadi perubahan perilaku.
Pengembangan sistem pembelajaran adalah merupakan usaha yang sistematis dari teknologi pembelajaran untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Sadiman (1986: 12) menyatakan bahwa pengembangan pembelajaran adalah suatu usaha yang sistematis untuk menganalisis masalah, mengidentifikasi, memilih, merancang, dan menilai pemecahannya. Usaha tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan suatu desain sistem pembelajaran yang komplit, terarah, dan terkontrol untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi, pengembangan sistem pembelajaran adalah bagian dari teknologi pembelajaran.

B.     Saran
Untuk para pengembang sistem instruksional hendaknya dapat melakukan kegiatan pokoknya dengan baik, seperti :
a.       Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati dan diukur.
b.      Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
c.       Menentukan metode dan memonitori responsi siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
d.      Mengadakan perbaikan dalam kegiatan belajar mengajar bila ternyata responsi siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.




DAFTAR PUSTAKA
 AECT. (1979). The defenitions of educational technology. Washington.
Bana       thy. (1968). Instruction system. Belmond: Fearon.
Gagn     e. (1988). Prinsiples of instruction design, third edition. New York: Rinehart and Winston.
Harj       into. (2006). Perencanaan pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
  Miarso. (1988). Survey model pengembangan instruksional. Jakarta: PAU-UT.
  Sadiman. (1986). Media pendidikan. Jakarta: Pustekkom Dikbud.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surat dari tahun 2070


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pagaralam


Wuih... Ada Danau Merah di Pagar Alam Warta Kota/Istimewa Danau merah
PAGAR ALAM, KOMPAS.com — Warga Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Sabtu (4/12/2010), menemukan danau yang permukaan airnya berwarna merah dengan luas 6 hektar di perbatasan Provinsi Bengkulu atau sekitar bukit Raje Mandare.
Keberadaan danau ini juga baru dapat dijangkau dalam waktu sekitar dua hari dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan dan bukit Rimbacandi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Selatan.
"Kami bersama rombongan 21 orang, termasuk dua paranormal, melakukan ekspedisi di kawasan Rimbacandi dengan menelusuri tebing, hutan, dan perbukitan selama dua hari baru sampai di lokasi danau merah tersebut," kata Asmidi, warga setempat, di Pagar Alam.
Letak danau itu di sekitar perbukitan Raje Mandare, di perbatasan antara Kota Pagar Alam dan Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu, yang terkenal dengan banyak simpanan sejumlah peninggalan bersejarah, termasuk candi.
Menurut dia, di daerah itu memang banyak hal yang aneh bisa ditemukan. Bukan hanya ada danau dengan air berwarna merah, melainkan juga ada lokasi yang menimbulkan aroma pandan bila malam hari.
"Namun anehnya, meskipun dilihat dari permukaan berwarna merah, tapi ketika air diambil menggunakan tangan dan diangkat ke permukaan, justru warnanya seperti biasa, bening dan jernih," kata dia.
Selain danau merah, di hutan Raje Mandare yang penuh keanehan itu juga ada sejumlah satwa raksasa. Misalnya, kelabang dengan lebar 30 cm dan panjangnya 50 cm, burung raksasa, dan kerbau yang telinganya ada sarang lebahnya.

Sumber : www.kompas.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Instalasi Moodle di Windows

Instalasi Moodle di Windows


Instalasi Moodle di Windows pada dasarnya setelah kita membuat localhost dan menempatkan moodle pada folder htdocs. Untuk simulasi belajar online tidak mesti harus pakai server. salah satu komputer kita install moodle, yang bisa diakses melalui komputer lain dalam jaringan dengan internet explorer dengan mengetikkan alamat IP nya
Berikut langkah-langkah instalasi moodle di windows :

1. Membuat Localhost

Download program freeware : XAMPPLITE-WIN32-1.7.3 yang merupakan paket server Apache dan PHPMyAdmin dari alamat :
http://www.apachefriends.org/en/xampp-windows.html Install freeware tersebut dengan mengekstrak dan menempatkan paa dalah satu drive. Untuk mengecek apakah localhost kita sudah berjalan. Terlebih dahulu aktifkan apache server kemudian buka browser dan ketikkan alamat berikut:
http://localhost/
Jika menampilkan halaman seperti halaman internet pada umumnya berarti instalasi sudah berhasil.
Xampp
2. Menginstal Moodle
Download moodle dari internet http://download.moodle.org/ versi terbaru saat ini moodle 1.9.x kemudian ekstrak ke folder mana saja. Setelah itu hasil ekstrak dalam hal ini direktori moodle beserta isinya kita copy dan kemudian paste di direktory berikut:
C:\xampp\htdocs
Lokasi ini tidak mengikat. Tergantung dari dimana meletakkan hasil ekstak xampp.
Direktori moodle diletakkan di :
C:\xampp\htdocs\moodle
nama direktori moodle bisa dirubah dengan nama lainnya, seperti : kuliah, belajar, dan sebagainya. Terserah dari masing2 administrator.
Untuk instalasi moodle alamatkan browser pada:
http://localhost/moodle
Selanjutnya ikuti proses installasi hingga selesai
3. Instalasi bahasa Indonesia
Download paket bahasa indonesia id_utf8.zip dari alamat berikut:
http://download.moodle.org/lang16/
Kemudian ekstrak paket tersebut pada suatu direktori yang kita tentukan dengan cara mendouble klik file id_utf8.zip dan arahkan pada direktori yang kita inginkan agar mudah ditemukan.
Proses unzip file id_utf8.zip akan menghasilkan direktori id_utf8 yang berisikan beberapa file dan folder. Letakkan pada :
C://xampp/htdocs/moodle/lang/
Jika anda baru akan menginstall moodle, setelah extract file moodle dan sebelum proses instalasi moodle dilakukan, anda dapat mengcopy folder id_utf8. Untuk informasi lengkap cara instalasi Moodle dapat dibaca di http://docs.moodle.org/en/Installing_Moodle

Sumber :http://baharudin.web.id/instalasi-moodle-di-windows.html 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cara membuat blog

Sebenarnya membuat blog itu sendiri cukup mudah. Hanya saja untuk membuat blog yang baik perlu sedikit belajar. Tapi sobat tidak perlu khawatir,kita bisabelajar sambil jalan. Yang penting ciptakan dulu blognya.

Bagaimana caranya:
Untuk loginanda harus punya account:misal gmail. Jika belum punya coba daftar dulu ke www.gmail.com., membuat gmail samahalnya membuat email dari yahoo, ga sulit ko!!! Jika sudah masuk saja ke www.blogger.com



Kemudian login dengan account gmail sobat.
Akan muncul gambar seperti dibawah ini:



Isi nama tampilan: ini hanya untuk menandai posting sobat.
Jangan lupa tandai kotak kecil tanda penerimaan persyaratan.
Jika sudah klik lanjutkan,sobat akan di bawa pada gambar sebagai berikut:




Beri judul blok terserah yang sobat suka. Langkah selanjutnya beri alamat URL blog sobat. Jangan lupa cek ketersediaan. Kalau tidak tersedia coba ganti dengan alamat yang lain,mungkin saja alamat yang sobat inginkan sudah terpakai.
Jika sudah klik lanjutkan:
Kemudian akan muncul gambar seperti dibawah ini:



Pilih template yang sobat suka.
Klik lanjutkan.



Nah blog anda sekarang sudah jadi.

Jika andat klik MULAI BLOGGING akan muncul gambar di bawah ini:



Dari sini anda sudah bisa mulai menulis. Mungkin tentang hobby,aktifitas anda sehari-hari atau apa saja terserah anda. Kotak yang kecil atas untuk judul artikel atau postingan anda. Untuk kotak yang lebar di bawahnya untuk menulis artikel atau postingan anda. Jika sudah klik Publikasikan....Gampang kan???  ayo ngbloG

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Powered by Blogger.

Popular

Blogger news

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN